Memaknai Halalbihalal Secara Lebih Baik

9 Jul 2015

Setelah menyelesaikan wajib puasa selama bulan Ramadan, umat Islam akan menyambut lebaran dengan sukacita. Setiap rumah memiliki ciri khas dalam menyambut Idul Fitri. Kuliner khas, baju terbaik, uang angpao untuk anak-anak, juga kondisi kendaraan yang siap mengantar silaturrahmi. Lebaran berarti keterbukaan hati untuk menyambut tamu di rumah dan atau berkunjung ke rumah-rumah sesama muslim untuk saling memaafkan. Suasana lebaran yang paling saya tunggu adalah ketika seluruh warga desa berada di area sekitar jalan utama sehingga bisa saling sapa, saling bersalaman, dan semua orang memakai baju terbaik yang mereka miliki. Betapa cerianya. Suasana ini sangat saya rindukan.


Menulis tentang lebaran dan idul fitri, mengingatkan saya pada acara khas Indonesia yaitu halalbihalal. Halalbihalal adalah tradisi lebaran yang hanya ada di Indonesia. Negara Islam lain seperti Arab tidak mengenalnya. Itulah keunikan halalbihalal.
Ketika saya mencari kata halal bihalal di kamus KBBI Online, saya tidak menemukannya. Karena kata yang diakui adalah halalbihalal (kata benda) yang artinya maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb) oleh sekelompok orang: - merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia. Jadi meskipun halalbihalal terdengar seperti berasaldari bahasa Arab, namun sebenarnya tidak dikenal oleh kalangan bangsa Arab. Pun demikian dengan kamus bahasa Arab yang belum mengenal kata ini. Dr Quraish Sgihab menyatakan, halalbihalal merupakan kata majemuk dari dua kata Arab halal yang diapit dengan satu kata penghubung ba (dibaca bi)(Shihab, 1992:317)
Halalbihalal memiliki 3 arti dan makna yaitu:
Dari tinjauan bahasa, halalbihalal berasal dari kata halla atau halal yang bisa diartikan sebagai menyelesaikan persoalan, meluruskan benang kusut, mencairkan air keruh dan melepaskan ikatan yang membelenggu.
Dari tinjauan hukum, halalbihalal yang berasal dari kata halal digunakan sebagai lawan kata dari haram dan makruh. Dari tinjauan hukum ini halalbihalal diartikan dengan membebaskan diri dari perbuatan yang haram dan makruh, atau membebaskan diri dari dosa.
Dari tinjauan makna Al Qur’an, kata halal di dalam Al Qur’an (QS.2:168, QS. :69, QS 5:88, QS 16:114) selalu dirangkai dengan kata thayyib (halalan thayyiba) yang berarti baik dan menyenangkan. Maka halalbihalal seharusnya menjadi kegiatan bersama yang baik lagi menyenangkan. Semua yang ikut halalbihalal hendaknya bersama-sama untuk melakukan kebaikan dan menyenangkan semuanya. Berikut ini adalah fungsi halalbihalal:
1.    Saling memaafkan dan saling menyenangkan semua pihak
2.    Merajut kembali hubungan yang terputus/kusut
3.    Mencairkan suasana beku ketika ada pihak-pihak yang bersitegang
4.    Mempererat silaturrahmi
5.    Saling memaafkan dan menyadari kekhilafan masing-masing,
6.    Menyelesaikan masalah yang ada antara pihak-pihak yang pernah/sedang berselisih
7.    Komitmen melepaskan diri dari perbuatan yang haram/makruh
8.    Membebaskan diri dari perbuatan perbuatan dosa dengan sesama peserta halalbihalal
9.    Menimbulkan niat untuk melakukan kebaikan yang lebih banyak
10.    Komunikasi produktif antar peserta halalbihalal.
Masih banyak manfaat halalbihalal yang dapat digali oleh setiap individu sesuai kebutuhannya seperti seorang jomblo yang bisa mencari calon sambil berhalalbihalal, pertemuan antara sahabat lama yang sangat ditunggu-tunggu, mencari relasi kerja baru, dan masih banyak lagi manfaat secara personal. Maka dari itu, saya tidak setuju jika halalbihalal dikatakan sebagai bid’ah hanya karena bukan tradisi asli dari Arab ataupun takut terjadi riya’ dan pesta berlebihan. Menurut saya, semua tergantung pada semua pihak yang terkait dengan halalbihalal.

ngaBLOGburit


TAGS halalbihalal


-

Catatan Saya

Susi Ernawati
@susierna

Search

Recent Post