Bahayanya Selalu Mengabulkan Keinginan Anak

10 Jun 2015

Memiliki anak sendiri, Subhanallah…. Itu adalah kebahagiaan terbesar. Anugerah terindah. Itulah yang saya rasakan. Saya yakin, para orang tua juga merasakan hal yang sama. Menjadi orang tua, mendidik anak, dan mensyukuri setiap kebersamaan.

Orang tua cenderung memenuhi semua keinginan anak. Uang, mainan, makanan, keinginan dibelikan sesuatu, keinginan digendong, dipeluk, tak pernah melarang anak, selalu menenuhi atau membiarkan anak melakukan semua yang ia mau. Siapa yang merasa begitu?

Merajuk salah satu cara anak meminta dituruti keinginannya

Merajuk salah satu cara anak meminta dituruti keinginannya

Memiliki seorang anak perempuan (atau laki-laki), cantik, imut, menggemaskan. Memandangnya saja seperti menggenggam surga. Senyum tak bisa lepas dari bibir setiap melihat tingkah dan celotehnya. Siapa yang tak bahagia? Jangankan meminta mainan, meminta nyawa kita pun akan kita berikan. Yang terakhir saya sebut itu meski bercanda, tetapi saya pun akan memberikannya. Maksud saya adalah SELALU MENURUTI keinginan anak.

Saya sering melihat orang tua memberikan Hp atau gadget pada bayi-batitanya. Daripada menangis adalah salah satu alasannya. Atau, seorang ibu/ayah membiarkan anak batitanya bermain dengan binatang tanpa didampingi. Tahukah kamu, bahwa pada usia 0-3 tahun itu, anak sedang masa eksplorasi? Ia terus mengeksplore dunia kecilnya. Bermain dengan binatang (berbahaya/tidak), memegang stop kontak listrik yang tergeletak di dekatnya, memencet-pencet Hp/gadget orang tuanya, menggeledah isi tas/dompet orang tuanya. Kelihatannya sepele. Kelihatannya lucu. Kelihatannya tidak berbahaya. Benarkah? Bagaimana jika setelah bermain dengan binatang (tak berbahaya) itu anak memakan sesuatu di luar sepengetahuan kita? Bagaimana ia tahu stop kontak adalah benda berbahaya? Bagaimana ia tahu Hp itu benda yang tidak boleh dibanting meski ia sedang ngambeg atau bosan? Bagaimana ia tahu ada penting di dalam tas/dompet dan kita tak boleh kehilangan/ketinggalan benda itu dan mempengaruhi kinerja kita di kantor misalnya.

Saya, sejak anak masih bayi, tak mau mengijinkan kedua anak saya meminjam HP. Meski mereka penasaran sekali dan terkadang menangis, saya tidak meminjamkannya. Anak sangat mudah dibujuk dan dibuat lupa. (kecuali anak yang sudah terlanjur menjadi penuntut karena semua keinginannya selalu dipenuhi, memang butuh usaha ekstra untuk membujuk/mengalihkan keinginannya). Saya juga menyediakan sebuah hp lawas tanpa kartu yang kadang saya ijinkan ia pinjam jika terlanjur tantrum. Tak boleh lama-lama karena radiasi HP sangat berbahaya bagi anak. Nah, jika hp yang tidak digunakan saja sebaiknya dijauhkan dari batita, apalagi HP/Gadget yang kita pakai sehari-hari, yang bisa setiap saat ia banting dan rusakkan?

Apa bahayanya selalu menuruti keinginan anak? 1. Ia tidak mengenal bahaya dan merugikan orang terdekatnya. Anak yang selalu dituruti tidak mengenal bahaya di sekitarnya. Ia tidak tahu bahwa suatu benda seperti HP tidak cocok dan berbahaya baginya. Baginya itu hanya mainan yang bisa ia banting kapan saja. Padahal selain bahaya rusak, tingkat radiasi HP terlalu tinggi bagi anak. HP juga alat komunikasi (kerja) orang tuanya dan setiap saat orang tua perlu menelpon/ditelpon. Berapa kali terjadi kasus orang tua berebut HP kala menerima telpon dan akhirnya yang terdengar adalah suara tangisan da teriakan anak ketika kita menelpon seseorang? :D Apa yang sebaiknya kita lakukan? Sejak dini, kenalkan anak pada konsep bahaya dan tidak berbahaya. Jauhkan hal-hal yang membahayakan anak. HP, dompet, tas, kabel, benda berharga orang tuanya, adalah benda yang sebaiknya dijauhkan dari jangkauan bermain bayi-batita. Eksplorasi bayi-batita biasanya hanya sejauh pandangan mata dan jangkauan tangannya. Jadi letakkan semua benda yang tak ingin ditemukan anak selama eksplorasinya di luar jangkauan padangan/tangan anak. Jangan sampai anak bermain dengan binatang tanpa sepengetahuan kita. Jika kita menganggap binatang peliharaan rumah harus ada, maka, jangan biarkan mata kita lengah mengawasinya. 2. Komunikasi terhambat. Beberapa orang tua selalu menuruti keinginan anak meski hanya berupa tunjuk jari. Contohnya anak ingin ke kamar mandi dan hanya menunjuk ke sana. Meski urgen, segera ucapkan, [nama anak] ingin pipis? Ayo. Semakin bertambah hari, selalu paksa anak mengucapkan kalimat yang kita kenalkan itu sebelum mengantarnya ke kamar mandi. Buat anak terbiasa meminta dahulu sebelum mendapatkan keinginannya. Meski sepele, namun sangat penting. Karena jika hanya tunjuk sudah dapat keinginannya, anak tidak mengenal konsep kepemilikan. Semua yang ia lihat dan tunjuk adalah miliknya. Apalagi di usia bayi-batita ini ego anak sangat tinggi. Kerena itu, selain mengajarkan/membiasakan anak meminta (ijin) dari bayi-batita, ajarkan anak tentang arti kepemilikan. Benda milik orang lain tak boleh sembarangan diambil. Beberapa benda sangat berharga bagi dirinya dan orang lain. Jika kita selalu menuruti anak dan kebiasaan ini terbawa sampai besar, anak akan sulit bergaul dan ia menjadi pribadi penuntut. Kita tak ingin anak kita mengalami 2 hal mengerikan itu kan? 3. Di usia pra sekolah - Kemampuan sosial anak terhambat. Anak yang selalu dituruti keinginannya akan mudah tantrum(ngambeg, marah, berperilaku sulit). Ketika meminta sesuatu dan tidak dituruti, anak tidak segan-segan menangis berguling-guling, merusak, menjerit (dan bahkan ada yang sampai memukul). Ia menjadi anak yang sering menyerobot antrian teman dan enggan bergantian (tempat/mainan). Meski sudah agak terlambat, tetapi kita tetap bisa berusaha mengubahnya. Jangan bosan menasehati anak bahwa tidak semua keinginan anak terpenuhi. Ada kepentingan orang lain yang harus didahulukan. Ada teman yang harus ia perlakukan dengan baik. Ada perilaku nuruk yang membuatnya akan malu nanti. Dan ada keinginan yang pemenuhannya perlu ditunda dulu dan yakinkan anak bahwa keinginannya itu pasti akan terkabul jika ia mau bersabar (mengantri). Hal-hal kecil seperti ini harus diketahui. Biasakan menasehati anak melalui cerita ringan kala ia sedang senggan dan tidak sibuk dengan eksplorasinya. Jangan memberitahunya (hanya ketika) ia sedang sedih/marah karena keinginannya tidak segera dikabulkan. Menurut saya itu sudah agak terlambat. 4. Di usia sekolah Dijauhi teman. Karena anak terbiasa mendapat semua keinginannya tanpa banyak usaha, anak akan tumbuh menjadi raja kecil di rumahnya. Ia ingin memimpin dan tidak mau disuruh. Ia hanya mau meminta dan tidak ingin diminta. Selain anak tidak mengenal tugas/kewajiban di rumah, anak juga akan sulit mengerti adanya tugas/kewajiban di sekolah dan di masyarakat. Ia akan sulit diajak kerjasama dan hanya mau menyuruh dan meminpin. Sikap menyebalkan ini terkadang bisa sampai pada merampas benda milik temannya. Kita tentu tak ingin mendengar kisa bully anak kita. Karena itu, selalu ajarkan anak agar berempati terhadap orang lain di sekitarnya. Tak semua keinginan bisa tercapai. Jika sedang berkelompok, ia harus menjadi 1 team. 5. Menjadi pribadi penuntut. Inilah bahaya terbesar jika selalu menuruti keinginan anak. Anak yang selalu dituruti keinginannya akan menjadi pribadi yang rapuh dan penuntut. Ia juga menjadi anak yang selalu menyusahkan orang tua. Hari ini membeli A, besok membeli B. Saat ini meminta C, sebentar lagi menuntut D. Tak heran jika dalam satu waktu ia menuntut/mengenggam E F G H I tanpa mau berbagi dengan yang lain. Semua miliknya tak boleh disentuh. Contoh kecil adalah makanan miliknya yang tak boleh disentuh siapapun. Lebih baik basi daripada dimakan orang lain. Pernah bertemu dengan anak seperti ini kan? Anak penuntut akan memiliki toleransi yang rendah terhadap kekecewaan. Ia mudah frustasi ketika keinginannya belum tercapai. Ia mudah frustasi jika berada di luar rumah dan tidak mendapat apa yang menjadi kebutuhan dasarnya (kenyamanan). Ia bisa juga menjadi pribadi melankolis yang cengeng serta pasif. Atau, sebaliknya, ia menjadi pribadi yang agresif dan mudah marah. Karena itu, sejak dini, orang tua juga harus mulai mengenalkan skala prioritas kebutuhan dan keinginan. Mana yang urgent, sangat penting, penting, agak penting, kurang penting, tidak penting, dan harus diabaikan. Ajarkan anak memenuhi kebutuhannya sendiri dari uang yang ia tabung agar anak menghargai keinginannya. Kelihatannya sangat sepele. Menuruti semua keinginan anak adalah kebanggaan semua orang tua. Tetapi selalu kenali sejak dini, perubahan perilaku anak agar kita tidak kecewa nantinya. Ajari anak untuk menghargai kepemilikan dan batas eksplorasinya. ajarkan pada anak untuk meminta (ijin) ketika memiliki keinginan. Ajarkan pada anak untuk mengerti adanya penundaan pemenuhan keinginannya. Ajarkan anak untuk mengenal konsep team dan berteman. Dan biasakan anak untuk mengenali keinginan dan kebutuhannya sendiri sesuai skala prioritas agar ia menjadi pribadi yang sabar, santun, dan disukai semua temannya.


TAGS


-

Catatan Saya

Susi Ernawati
@susierna

Search

Recent Post